Agan-agan, Ane di sini hanya ingin berkarya dengan cerita ane. mungikn ceritanya kurang bagus mohon maaf karena ane hanya seorang Newbie dibidang tulis menulis. mohon saran ya Agan-agan semua supaya ane bisa membuat yang lebih bagus lagi. ini cerita ane buat bersambung, jadi bakal ada lanjutannya. Ane buat cerita ini hanya sekedar iseng jadi mohon maaf kalo ada penulisan kata-kata yang kurang berkenan. Selamat membaca ! (^,^)
Genius
Part 1: Masa Kecil
Bogor kota hujan, saat itu hujan turun sangat deras. Seperti biasa anak-anak kecil bermain hujan-hujanan. Termasuk aku, bocah kecil yang tak berdaya dan tak memiliki kekuatan apapun selain bergantung pada orang tua. Tapi itulah masa-masa kecil yang sangat indah, sebab aku tidak ingin saat aku besar aku disebut dengan istilah "masa kecil kurang bahagia".
Saat sedang asyik-asyiknya hujan-hujanan, tiba-tiba semua keadaan berubah. Petir menyambar dengan dahsyatnya. Anak-anak pun berlarian pulang ke rumah. Aku pun takut dengan petir yang sangat amat besar dan mempengangkan pendengaranku. Tapi, Dewi Fortuna tak memihakku. "DUAARR !!" aku tersambar petir dan aku tak sadarkan diri. Teman-teman yang melihatku berusaha menolong. Tapi, apa daya aku pun terbawa arus banjir yang sangat deras. Arus deras membawaku tanpa arah dan tujuan, aku pun tak sadarkan diri. Lalu saat aku tersadar aku sudah berada pada sebuah gubuk kecil di tengah hutan. Aku tak tahu berada di mana. Badanku lemas tak ada tenaga sama sekali. "Dimana ini?" Tanyaku dalam hati. "Kau berada di kaki bukit gunung salak nak." suara menyahutiku dari arah belakang. "Siapa tuh?" sahutku terkejut. "Jangan takut nak, aku menolongmu saat kau hanyut di sungai kemarin sore, lalu aku membawamu ke rumahku karena aku tidak tahu rumahmu dimana." Jelas kakek itu. "Rumahku ada di Bogor kek." jelasku pada kakek itu. "ya, sekarang aku tahu." jawab kakek itu. "tadi kakek tidak tahu, lantas kenapa sekarang tiba-tiba tahu?" tanyaku heran. "Kan tadi kamu baru saja bilang nak. Tertidurlah saat kau bangun nanti kau akan kembali ke rumahmu." kata kakek itu. "bagaimana caranya?"tanyaku semakin tak mengerti. "tak usah banyak bertanya, ayo cepat tidur!" perintah kakek itu. Aku pun tertidur karena aku merasa sangat lelah setelah kejadian kemarin sore. Saat aku tertidur aku bemimpi tentang kakek tadi. Di suatu tempat yang hampa dia menemuiku dan berkata suatu saat aku akan menjadi orang besar dimasa depan. Dimimpi itu aku heran dan memanggil kakek itu tapi ia tidak menghiraukan panggilanku.
saat aku terbangun dari tidurku aku sudah berada di kamar tidurku. Aku heran bagaimana cara kakek itu membawaku pulang. Aku pun beranjak dari tempat tidur dan menuju ke luar kamar. Aku melihat orang tuaku sedang menangis. "Mah, Pah kenapa?" tanyaku. "Andi !!" orang tua ku berteriak dan langsung memelukku. Mereka mengira aku telah tewas pada kejadian kemarin sore saat aku hanyut. Sejak saat itu aku tidak diizinkan hujan-hujanan.
Keesokan harinya saat aku tertidur, jam wecker membangunkanku. Karena masih saking mengantuknya aku pun kesal dengan bunyi jam wecker itu. Saat aku hendak mematikannya aku menunjuk kearah jam wecker itu dan muncul sebuah cahaya. Langsung saja jam wecker itu hancur berkeping-keping. Aku terkejut dan langsung galau, apa yang sebenarnya terjadi? Lalu aku pun bergegas pergi ke sekolah. Di sekolah saat istirahat, aku sedang makan di kantin. Lalu ada seorang teman wanitaku duduk di seberangku. dia seorang wanita yang cantik aku sangat mengaguminya namanya Melody. akan tapi, aku terlalu malu untuk mengobrol dengannya. Dari arah luar kantin, datang segerombolan anak sok jagoan datang dan menggoda dan menjahilinya. Aku tak tega, aku pun membelanya. Tapi, malah aku yang dikeroyok. Aku ditendangi dan dihajar. Tapi aneh rasanya tak terasa apapun dibadanku. hanya seperti disentuh saja. Malahan, mereka kesakitan seperti tersetrum. Mereka pun kabur dan mereka menyebutku dengan sebutan orang aneh. "Kamu gak apa-apa?" tanyaku kepada Melody. "Iya, aku gak apa-apa. makasih ya udah belain aku tadi?" Ucapnya padaku. Aku hanya terdiam dan tersenyum. Aku pun membantunya berdiri dan langsung bergegas pergi. "Tunggu! Nama kamu siapa?" tanya Melody. "Namaku....Andi." jawabku sambil tersenyum. Dia pun tersenyum kepadaku. Sesampainya di kelas, teman-temanku menteriakiku. " Cieeee...Cieeee...!!". Aku pun malu. "Asik yang habis nolong Melody." Teriak Ikhsan kepadaku. lalu Ikhsan pun menghampiriku dan berbisik "Udahlah Ndi, semua anak kelas juga tau, jangan ngelak lagi". "Ya, mau bagaimana lagi? kalian sudah tahu. Tapi kalian jangan bilang-bilang ya?" Teriakku depan kelas. Teman-Teman sekelasku pun menjawab "Yoi, santai Ndi hahahaha !!".
Semenjak itu, Melody sering menyapaku di sekolah. Aku yang semula malu, lama-lama mulai terbiasa dekat dengannya. Aku dan dia selalu bersama, bahkan berangkat sekolah pun aku dijemputnya. Entah keberuntungan apa yang datang pada diriku. Hal itu terus berlangsung sampai saat kelulusan SD. saat acara kelulusan aku merasa sedih karena harus berpisah dengan teman-temanku. Ikhsan akan melanjutkan study ke Belanda. Teman-temanku yang lain akan pergi ke luar kota. Termasuk Melody, dia akan melanjutkan study ke kota Bandung. Tapi aku yakin suatu saat kami semua akan bisa bertemu lagi. Melody menghampiriku dengan mata berkaca-kaca. "Jangan nangis Mel, kita pasti ketemu lagi kok." Ucapku pada Melody. "Janji ya Andi?" tanyanya memastikan. "Iya aku janji." jawabku meyakinkan Melody.
Aku pun segera menghampiri Ikhsan dan teman-teman lainnya. "Sob, jangan lupa sama gua ya? oke?" ucap Ikhsan kepadaku. "Iye sob, kan ada Fb sama Twitter jadi santai hahha." jawabku. ini hari terakhir kami tertawa bersama melepas segala suka cita dimasa SD. Selamat tinggal kawan !
( TO BE CONTINUED )